Pagi ini matahari terbit dengan sinarnya. Awan biru dan
burung-burung kecil menambah pagi ini tampak lebih indah dari biasanya. Rumput
dan dedaunan basah meneteskan sisa-sisa air hujan semalam. Ketika Chloe
terbangun dari tidurnya, terdengar ketukan keras dari balik pintu kamarnya.
Lalu dia bergegas menuju arah pintu dan membukanya. Matanya masih buram untuk
melihat siapa yang mengetuk pintu.
“Hooaaaamm...
berisik banget sih, ganggu orang lagi tidur aja.” ucapnya dalam keadaan masih
sangat mengantuk.
“Sekarang
hari apa?” Tanya kak Mey.
“Hah.”
Chloe terkejut.
Dia baru ingat sekarang itu hari senin. Belum upacara, belum lagi
pelajaran pertama itu Ekonomi yang gurunya super kiler. Langsung dia bergegas menuju
kamar mandi dan siap-siap berangkat ke sekolah. Sarapan yang sudah disiapkan di
meja makan, dia tinggalkan begitu saja.
“Ayah.” Teriak chloe.
“Sudah
berangkat sejak tadi nona.” kak Mey menjawab dengan wajah meledek, membuat
chloe semakin ke sal dengan pagi
ini. Terpaksa chloe harus berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Memang
jarak rumah Chloe tidak begitu jauh dengan sekolah.
Sebelum menuju gerbang sekolah, dia sudah punya firasat buruk hari
ini. Pasti kena hukuman lagi. Ya, ketika dia sampai di gerbang sekolah, seorang
satpam dengan wajah menyeramkan, melihat ke arah Chloe dengan pandangan tajam. Chloe
tetap berjalan menuju ke arah gerbang dengan langkah gontai dengan
perlahan-lahan.
“Heh.”
Ransel merah muda dengan bergambar ditarik oleh satpam itu.
“E..e..e..e..”
Mulutnya gemeteran entah harus bicara apa Chloe saat ini
“Kenapa
telat!” Sentak satpam itu. Dia adalah pak Anto, yang meraih kategori satpam
paling menyeramkan yang pernah ada disekolah Chloe.
“A..a..anu
pak dan.. Kabuuuuurrrrrrrr.” Chloe berlari dengan kencangnya seperti halnya
dikejar seekor singa. Dengan nafas terengah-engah dia berhenti didepan pintu
kelas. Beruntung Chloe bisa selamat dari terkaman satpam itu. Nampaknya guru killer
itu sudah masuk kelas, baru saja menghadapi satpam menyeramkan lalu harus
menghadapi guru killer.
Dengan
terpaksa, Chloe memberanikan diri untuk membuka pintu kelas, dan....
“Ckrekk...”
dia membuka pintu, dan semua mata yang di dalam kelas tertuju ke arah Chloe.
Dia
hanya tersenyum seakan wajah tak berdosa.
“Cepat
duduk! Keluarkan buku dan buka bab tentang pajak” Ucap bu Maya, guru killer
itu.
Dengan
segera dia langsung membuka bab tentang pajak. Padahal bisa dibilang Chloe paling malas kalo belajar
mengenai perpajakan. Matanya terasa mengantuk, tapi guru itu masih terus
menjelaskannya.
“Apa
yang kalian tahu mengenai pajak? Dan bagaimana sistem perpajakan di negara
Indonesia kita ini? Seperti yang kita tahu, pajak adalah iyuran wajib yang
dipunggut oleh pemerintah dari masyarakat (wajib pajak) untuk menutupi
pengeluaran rutin negara dan biaya pembangunan tanpa balas jasa yang dapat
ditunjuk secara langsung. Dan sistem perpajakan di Indonesia adalah Self
Asessment System, yang dimana wajib pajak diberi kebebasan untuk menghitung,
menyetor dan melaporkannya atau melaporkan pajaknya sendiri ke kanto pajak.
Bisa kalian pahami apa yang ibu sampaikan?” Ucap bu Maya dengan tegas.
Rasanya
mata Chloe sudah tidak kuat lagi menahan ngantuk, tiba-tiba...
Bu
Maya melempar spidol ke arah Chole. Chloe yang semula mengantuk langsung duduk
tegak. Guru killer itu menghampirinya dengan memasang wajah kesal karena selama
dia menjelaskan, Chloe sibuk dengan matanya yang mengantuk.
“Bisa
kamu jelaskan kembali Chloe, apa yang ibu jelaskan tadi?” ucapnya.
“Hmm..”
gumam Chloe dalam hati, dia benar-benar bingung apa yang dijelaskan oleh bu
Maya tadi. Dia menengok ke arah teman disampingnya dengan rasa tak pasti.
“Ayo
jelaskan! Kalo tidak bisa, perhatikan ketika ada guru yang sedang menjelaskan
didepan. Bukan malah ngantuk dan ngantuk” Ucap bu Maya dengan nada tinggi.
Chloe hanya terdiam dan menunduk. Bagi Chloe, kena marah bu Maya sudah biasa. Bahkan
hampir setiap hari selalu dia yang kena marahnya. Entah itu masalah pelajaran
atau apapun. Bosan setiap hari harus kena marah guru killer itu. Ujar Chloe
dalam hati.
“Kringggg” bel tanda istirahat berbunyi
Chloe
berjalan menuju kantin sekolah yang letaknya agak jauh dari kelas. Ketika dia
melewati mading sekolah, tampak sekumpulan siswa sedang melihat-lihat mading. Chloe
menghentikan langkahnya, dengan rasa penasaran Chloe langsung menghampiri
sekumpulan siswa itu. Ternyata hanya sebuah pengumuman akan diadakan
perlombaan-perlombaan yang bertemakan tentang perpajakan. Chloe mengira ada
apa, ternyata pajak lagi pajak lagi. Gadis berusia 12 tahun itu masih bingung
kenapa harus ada pajak di negeri ini? Padahal tanpa adanya pajak tidak masalah
kan? Pikirnya dalam hati.
Bel masuk berbunyi “Kringgggg”,
Dia berlari
dan segera membuka pintu kelas. Suasana dikelas itu sangat ramai. Teman-temannya
sedang memilih siapa yang akan diikutan dalam perlombaan yang bertemakan
perpajakan. Ketika Chloe menghampiri salah seorang temannya, Chloe dipilih
mengikuti lomba membuat cerpen yang bertemakan perpajakan itu. Sedangkan lomba
itu diadakan besok hari. Sama sekali gadis kecil itu tidak ada persiapan. Apalagi
Chloe paling tidak suka dengan seperti itu. Dia sempat menolaknya, karena gadis
kecil itu tidak paham apa itu pajak. Tapi teman-temannya terus memaksa Chloe untuk
mengikuti lomba itu. Chloe mengangguk terpaksa.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.15 WIB. Bel pulang berbunyi dengan
kerasnya. Chloe segera menggendong ransel warna merah muda yang biasa dia pakai
ke sekolah. Sepetinya ayahnya sudah menunggu Chloe sejak tadi. Dia berlari menghampiri
ayahnya.
“Ayah..
pasti lama ya?” tanya Chloe pada ayah.
“Iya,
ayo cepat masuk.” ucap ayahnya.
Sesampainya dirumah, Chloe langsung menuju kamar. Dia mengambil
buku kecil dari rak buku yang dia tata rapi, dan mengambil pena yang masih
tergeletak diatas meja belajarnya. Gadis itu masih bingung untuk perlombaan
besok. Sedangkan dia sama sekali tidak mengerti. “Ya sudahlah, coba saja dulu.”
gumamnya dalam hati. Dia mulai menulis kata demi kata. Dan terdengar kak Mey
mengetuk pintu kamarnya. Chloe menghampiri pintu dan membukanya.
“Kenapa
kak?” tanya Chloe.
“Ngga,
bosan aja dikamar sendiri. Kenapa kamu?” ucap kak Mey dengan wajah penasaran.
“Kak,
besok Chloe harus ikut lomba cerpen yang temanya perpajakan. tapi Chloe ngga
bisa, chloe juga paling benci pelajaran ekonomi” jawab Chloe.
Kak Mey menjelaskan pada Chloe apa itu pajak. Karena Chloe tidak
ada inspirasi sama sekali siang itu. Chloe mulai mengerti dan dia mulai
menulisnya dalam selembar kertas. Yang dia pikirkan saat ini, kenapa dalam
negri harus ada pajak? Untuk apa membayar pajak? Lalu kenapa pajak hanya
diperuntukan untuk rakyat miskin sedangkan pengusaha-pengusaha kaya banyak yang
enggan membayar pajak? Bukankah itu tidak adil? Chloe bertanya-tanya dalam
hatinya.
Dia menanyakan pada kak Mey yang kebetulan, ketika SMA kak Mey
masuk jurusan IPS. “Bayangkan saja jika dalam negri tidak ada pajak. Bagaimana
nasib pembangunan negara ini? Tapi sekarang ini, banyak sekali terjadi
kecurangan dalam hal membayar pajak. Padahal siapa lagi yang akan membantu
negara jika bukan rakyatnya sendiri yang mendukung untuk pembangunan negaranya.
Semestiya kita membayar pajak yang sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh
pihak pajak. Lebih lagi negri kita ini menganut Self Asessment System.” ujar
kak Mey.
***
Matahari semakin terik. Siang itu Chloe masih sibuk membuat cerpen
untuk perlombaan besok. Kak Mey yang terlihat lelah, tertidur lelap dikamar
Chloe. Chloe mencari ide lain dari buku-buku. Tampaknya, meskipun Chloe sudah
mendapat penjelasan banyak tentang perpajakan dari kak Mey, dia masih sedikit
bingung. Dengan menggunakan baju biru dan celana jeansnya dia langsung
mengambil ransel merah muda dan dia langsung berlari. Chloe bermaksud pergi ke
rumah bu maya, guru killer itu. Dia mencari angkutan umum untuk sampai ke rumah
bu maya, tapi siang itu tidak nampak satupun mobil atau angkutan umum, yang ada
hanya ada lelaki tua dengan becaknya
yang sedang berhenti diseberang jalan. Tanpa berfikir lama, Chloe melambaikan
tangannya sebagai tanda dia memanggil tukang becak tersebut. Tukang becak itu
menghampiri Chloe yang sedang berdiri dipinggir jalan.
“Pak,
bisa antarkan saya?” tanya Chloe.
“Bisa
non, memangnya mau kemana?” tanya tukang
becak itu.
“Lurus
saja pak, disana ada belokan ke kanan terus ada apotik, berhenti saja disana”
jelas Chloe.
Tukang
becak itu langsung mengantarkan Chloe ke rumah bu Maya. Jalanan terlihat rusak
berlubang dan bebatuan besar ditengah jalan membuat becak yang dinaiki Chloe
susah untuk melewatinya. Chloe merasa kasihan kepada tukang becak itu.
Tampaknya lelaki tua itu kelelahan.
“Pak,
kenapa jalannya rusak? Memangnya pemerintah tidak memperbaikinya?” tanya Chloe
pada tukang becak itu.
“Ya
begitulah non. Karena banyak yang enggan membayar pajak dengan taat, akibatnya
jalanan yang rusak parah tidak pernah diperbaiki.” ujar tukang becak itu.
Chloe ingat apa yang tadi kak Mey jelaskan ada kaitannya dengan
jalan yang rusak ini. “Benar juga ya, kalo dalam negeri tidak ada pajak untuk
pembangunan negrinya sendiri, mereka yang akan menanggung akibatnya sendiri.” ujar
Chloe dalam hati.
Tak
lama kemudian, sampailah Chloe tepat didepan apotik yang jaraknya hanya beberapa
langkah dengan rumah bu Maya. Chloe memberi uang kepada tukang becak itu.
“Ini
kembaliannya non.” ucap tukang becak itu sambil menyodorkan kembalian.
“Ambil
saja pak.” jawab Chloe sambil tersenyum, dia merasa kasihan kepada tukang becak
yang harus bekerja keras dengan upah yang sedikit sedangkan jalan yang dilalui
sangat rusak.
Chloe segera menuju rumah bu Maya. Rumah bu Maya terlihat sepi dan
sepertinya tidak ada orang. Dengan memberanikan diri Chloe mengetuk pintunya
sedikit keras.
“Tok.. tok.. tok.” Chloe mengetuk pintunya.
“Tok.. tok.. tok.” Chloe mengetuk pintunya.
Seseorang
membukakan pintu dari dalam. Chloe sudah takut bu Maya akan marah.
“Chloe?
Kenapa disini? Silahkan masuk.” Tanya bu Maya dengan suara pelan.
“Huhh..
Untungnya tidak marah-marah lagi.” dalam hati Chloe dengan nafas lega.
“Iya
bu terimakasih.” ucap Chloe.
“Ada
apa Chloe? Mau minta maaf gara-gara tadi tidak memperhatikan ibu menjelaskan?”
tanya bu Maya sedikit meledek.
“Hm
iya bu itu salah satunya. Chloe mau bertanya bu? Bagaimana jika dalam suatu
negeri tidak ada pajak? Minta penjelasannya dari ibu bolehkan?” tanya Chloe
sambil melontarkan senyumnya.
“Begini
saja, ibu ambil contoh. coba Chloe bayangkan ada negeri yang rakyatnya tidak
mau membayar pajak? Sedangkan mereka seringkali mengeluh, sampai demo kepada
pemerintah kenapa jalanan rusak parah dan tidak segera diperbaiki? Mereka yang
tidak bayar, mereka yang merasakan akibatnya, mereka juga yang marah-marah?
Sebaiknya kita sebagai warga negara yang baik harus menghargai keputusan yang
telah dibuat oleh negara mereka, dan mengikuti aturan yang berlaku. Dan
jawabannya kembali pada diri masing-masing. Orang yang bijak, taat bayar pajak!
Nantinya juga untuk kepentingan kita bersama dan manfaatnya bisa kita rasakan
bersama.” ujar bu Maya.
Chloe
menganggukkan kepalanya, sepertinya dia mulai paham mengenai perpajakan.
“Baik
bu, terimakasih atas penjelasannya. Semoga itu bisa menambah ide untuk Chloe
menulis cerpennya.” ucap Chloe.
“Oh,
Chloe ikutan lomba cerpen perpajakan itu ya? Semoga Chloe yang jadi juaranya ya.”
Kata bu Maya.
“Iya
bu, terimakasih banyak atas bantuannya. Maunya sih bu, tapi kan yang lain lebih
jago-jago bikin cerpennya bu.”
“Berusaha
dan berdo’a saja, pasti Chloe bisa.” Ujarnya.
***
Hari semakin sore, terik matahari mulai mengarah ke arah barat.
Chloe berpamitan dengan bu Maya. Dia menelepon ayahnya untuk menjemputnya
pulang. Tak lama kemudian, ayah Chloe datang menjemput.
“Ayah
tau ngga? Besok Chloe ikutan lomba membuat cerpen.” kata Chloe.
“Oh
ya? Baguslah, temanya tentang apa?” tanya ayah pada Chloe.
“E..e..e
tentang perpajakan yah” jawab Chloe.
“Bagus
bagus. Kamu udah tau apa itu pajak?” tanya ayah kembali.
“Pajak
adalah iyuran wajib yang dipunggut oleh pemerintah dari masyarakat untuk
menutupi pengeluaran rutin negara dan biaya pembangunan tanpa balas jasa yang
dapat ditunjuk secara langsung. Betul kan yah?” ujar Chloe.
Ayah
hanya mengangguk dan tersenyum pada Chloe.
Sesampainya dirumah, Chloe langsung menuju kamarnya dengan hati
gembira. Sekarang dia tidak begitu membenci pelajaran ekonomi khususnya tentang
perpajakan. Chloe melanjutkan menulis cerpen dengan ide-ide yang didapatnya.
Tanpa
terasa, waktu semakin sore. Matahari akan segera terbenam. Chloe masih menulis
cerpen di meja belajarnya. Dengan ditemani Molly kucing kesayangannya.
Terdengar kak Mey mengetuk pintu kamar Chloe.
“Masuk
saja kak.” ucap Chloe.
Kak
Mey masuk dengan membawakan segelas susu coklat, yaitu minuman kesukaan Chloe.
“Sudah
selesai cerpennya?” tanya kak Mey.
“Sedikit
lagi kak.” jawab Chloe, matanya tidak melihat ke arah kak Mey. Dia begitu
serius mengerjakan cerpen itu.
Jam menunjukkan pukul 17.00 WIB.
Chloe bangun dari meja belajarnya, dan cerpen yang dibuatnya selesai juga. Akhirnya,
semua masalahnya hari ini terpecahkan. Yang tadinya Chloe sama sekali tidak
tahu pajak, akhirnya dia tahu dan bisa memahaminya dengan baik. Dia juga
memahami bahwa jika dalam suatu negri tidak ada pajak, mungkin apa jadinya?
Chloe
berharap, negri Indonesia bisa sukseskan pembangunan negara melalui ketaatan
dan kepatuhan membayar pajak. Untuk kepentingan bersama dan manfaatnya bisa
dirasakan bersama.
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar