Laman

Rabu, 17 September 2014

Negeri Tanpa Pajak



Pagi ini matahari terbit dengan sinarnya. Awan biru dan burung-burung kecil menambah pagi ini tampak lebih indah dari biasanya. Rumput dan dedaunan basah meneteskan sisa-sisa air hujan semalam. Ketika Chloe terbangun dari tidurnya, terdengar ketukan keras dari balik pintu kamarnya. Lalu dia bergegas menuju arah pintu dan membukanya. Matanya masih buram untuk melihat siapa yang mengetuk pintu.
“Hooaaaamm... berisik banget sih, ganggu orang lagi tidur aja.” ucapnya dalam keadaan masih sangat mengantuk.
“Sekarang hari apa?” Tanya kak Mey.
“Hah.” Chloe terkejut.
Dia baru ingat sekarang itu hari senin. Belum upacara, belum lagi pelajaran pertama itu Ekonomi yang gurunya super kiler. Langsung dia bergegas menuju kamar mandi dan siap-siap berangkat ke sekolah. Sarapan yang sudah disiapkan di meja makan, dia tinggalkan begitu saja.
 “Ayah.” Teriak chloe.
“Sudah berangkat sejak tadi nona.” kak Mey menjawab dengan wajah meledek, membuat chloe semakin ke sal dengan pagi ini. Terpaksa chloe harus berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Memang jarak rumah Chloe tidak begitu jauh dengan sekolah.
Sebelum menuju gerbang sekolah, dia sudah punya firasat buruk hari ini. Pasti kena hukuman lagi. Ya, ketika dia sampai di gerbang sekolah, seorang satpam dengan wajah menyeramkan, melihat ke arah Chloe dengan pandangan tajam. Chloe tetap berjalan menuju ke arah gerbang dengan langkah gontai dengan perlahan-lahan.
“Heh.” Ransel merah muda dengan bergambar ditarik oleh satpam itu.
“E..e..e..e..” Mulutnya gemeteran entah harus bicara apa Chloe saat ini
“Kenapa telat!” Sentak satpam itu. Dia adalah pak Anto, yang meraih kategori satpam paling menyeramkan yang pernah ada disekolah Chloe.
“A..a..anu pak dan.. Kabuuuuurrrrrrrr.” Chloe berlari dengan kencangnya seperti halnya dikejar seekor singa. Dengan nafas terengah-engah dia berhenti didepan pintu kelas. Beruntung Chloe bisa selamat dari terkaman satpam itu. Nampaknya guru killer itu sudah masuk kelas, baru saja menghadapi satpam menyeramkan lalu harus menghadapi guru killer.
Dengan terpaksa, Chloe memberanikan diri untuk membuka pintu kelas, dan....
“Ckrekk...” dia membuka pintu, dan semua mata yang di dalam kelas tertuju ke arah Chloe.
Dia hanya tersenyum seakan wajah tak berdosa.
“Cepat duduk! Keluarkan buku dan buka bab tentang pajak” Ucap bu Maya, guru killer itu.
Dengan segera dia langsung membuka bab tentang pajak. Padahal  bisa dibilang Chloe paling malas kalo belajar mengenai perpajakan. Matanya terasa mengantuk, tapi guru itu masih terus menjelaskannya.
“Apa yang kalian tahu mengenai pajak? Dan bagaimana sistem perpajakan di negara Indonesia kita ini? Seperti yang kita tahu, pajak adalah iyuran wajib yang dipunggut oleh pemerintah dari masyarakat (wajib pajak) untuk menutupi pengeluaran rutin negara dan biaya pembangunan tanpa balas jasa yang dapat ditunjuk secara langsung. Dan sistem perpajakan di Indonesia adalah Self Asessment System, yang dimana wajib pajak diberi kebebasan untuk menghitung, menyetor dan melaporkannya atau melaporkan pajaknya sendiri ke kanto pajak. Bisa kalian pahami apa yang ibu sampaikan?” Ucap bu Maya dengan tegas.
Rasanya mata Chloe sudah tidak kuat lagi menahan ngantuk, tiba-tiba...
Bu Maya melempar spidol ke arah Chole. Chloe yang semula mengantuk langsung duduk tegak. Guru killer itu menghampirinya dengan memasang wajah kesal karena selama dia menjelaskan, Chloe sibuk dengan matanya yang mengantuk.
“Bisa kamu jelaskan kembali Chloe, apa yang ibu jelaskan tadi?” ucapnya.
“Hmm..” gumam Chloe dalam hati, dia benar-benar bingung apa yang dijelaskan oleh bu Maya tadi. Dia menengok ke arah teman disampingnya dengan rasa tak pasti.
“Ayo jelaskan! Kalo tidak bisa, perhatikan ketika ada guru yang sedang menjelaskan didepan. Bukan malah ngantuk dan ngantuk” Ucap bu Maya dengan nada tinggi. Chloe hanya terdiam dan menunduk. Bagi Chloe, kena marah bu Maya sudah biasa. Bahkan hampir setiap hari selalu dia yang kena marahnya. Entah itu masalah pelajaran atau apapun. Bosan setiap hari harus kena marah guru killer itu. Ujar Chloe dalam hati.
“Kringggg” bel tanda istirahat berbunyi
Chloe berjalan menuju kantin sekolah yang letaknya agak jauh dari kelas. Ketika dia melewati mading sekolah, tampak sekumpulan siswa sedang melihat-lihat mading. Chloe menghentikan langkahnya, dengan rasa penasaran Chloe langsung menghampiri sekumpulan siswa itu. Ternyata hanya sebuah pengumuman akan diadakan perlombaan-perlombaan yang bertemakan tentang perpajakan. Chloe mengira ada apa, ternyata pajak lagi pajak lagi. Gadis berusia 12 tahun itu masih bingung kenapa harus ada pajak di negeri ini? Padahal tanpa adanya pajak tidak masalah kan? Pikirnya dalam hati.
Bel masuk berbunyi “Kringgggg”,
Dia berlari dan segera membuka pintu kelas. Suasana dikelas itu sangat ramai. Teman-temannya sedang memilih siapa yang akan diikutan dalam perlombaan yang bertemakan perpajakan. Ketika Chloe menghampiri salah seorang temannya, Chloe dipilih mengikuti lomba membuat cerpen yang bertemakan perpajakan itu. Sedangkan lomba itu diadakan besok hari. Sama sekali gadis kecil itu tidak ada persiapan. Apalagi Chloe paling tidak suka dengan seperti itu. Dia sempat menolaknya, karena gadis kecil itu tidak paham apa itu pajak. Tapi teman-temannya terus memaksa Chloe untuk mengikuti lomba itu. Chloe mengangguk terpaksa.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.15 WIB. Bel pulang berbunyi dengan kerasnya. Chloe segera menggendong ransel warna merah muda yang biasa dia pakai ke sekolah. Sepetinya ayahnya sudah menunggu Chloe sejak tadi. Dia berlari menghampiri ayahnya.
“Ayah.. pasti lama ya?” tanya Chloe pada ayah.
“Iya, ayo cepat masuk.” ucap ayahnya.
Sesampainya dirumah, Chloe langsung menuju kamar. Dia mengambil buku kecil dari rak buku yang dia tata rapi, dan mengambil pena yang masih tergeletak diatas meja belajarnya. Gadis itu masih bingung untuk perlombaan besok. Sedangkan dia sama sekali tidak mengerti. “Ya sudahlah, coba saja dulu.” gumamnya dalam hati. Dia mulai menulis kata demi kata. Dan terdengar kak Mey mengetuk pintu kamarnya. Chloe menghampiri pintu dan membukanya.
“Kenapa kak?” tanya Chloe.
“Ngga, bosan aja dikamar sendiri. Kenapa kamu?” ucap kak Mey dengan wajah penasaran.
“Kak, besok Chloe harus ikut lomba cerpen yang temanya perpajakan. tapi Chloe ngga bisa, chloe juga paling benci pelajaran ekonomi” jawab Chloe.
Kak Mey menjelaskan pada Chloe apa itu pajak. Karena Chloe tidak ada inspirasi sama sekali siang itu. Chloe mulai mengerti dan dia mulai menulisnya dalam selembar kertas. Yang dia pikirkan saat ini, kenapa dalam negri harus ada pajak? Untuk apa membayar pajak? Lalu kenapa pajak hanya diperuntukan untuk rakyat miskin sedangkan pengusaha-pengusaha kaya banyak yang enggan membayar pajak? Bukankah itu tidak adil? Chloe bertanya-tanya dalam hatinya.
Dia menanyakan pada kak Mey yang kebetulan, ketika SMA kak Mey masuk jurusan IPS. “Bayangkan saja jika dalam negri tidak ada pajak. Bagaimana nasib pembangunan negara ini? Tapi sekarang ini, banyak sekali terjadi kecurangan dalam hal membayar pajak. Padahal siapa lagi yang akan membantu negara jika bukan rakyatnya sendiri yang mendukung untuk pembangunan negaranya. Semestiya kita membayar pajak yang sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh pihak pajak. Lebih lagi negri kita ini menganut Self Asessment System.” ujar kak Mey.
                                                                        ***
Matahari semakin terik. Siang itu Chloe masih sibuk membuat cerpen untuk perlombaan besok. Kak Mey yang terlihat lelah, tertidur lelap dikamar Chloe. Chloe mencari ide lain dari buku-buku. Tampaknya, meskipun Chloe sudah mendapat penjelasan banyak tentang perpajakan dari kak Mey, dia masih sedikit bingung. Dengan menggunakan baju biru dan celana jeansnya dia langsung mengambil ransel merah muda dan dia langsung berlari. Chloe bermaksud pergi ke rumah bu maya, guru killer itu. Dia mencari angkutan umum untuk sampai ke rumah bu maya, tapi siang itu tidak nampak satupun mobil atau angkutan umum, yang ada hanya ada lelaki tua dengan  becaknya yang sedang berhenti diseberang jalan. Tanpa berfikir lama, Chloe melambaikan tangannya sebagai tanda dia memanggil tukang becak tersebut. Tukang becak itu menghampiri Chloe yang sedang berdiri dipinggir jalan.
“Pak, bisa antarkan saya?” tanya Chloe.
“Bisa non,  memangnya mau kemana?” tanya tukang becak itu.
“Lurus saja pak, disana ada belokan ke kanan terus ada apotik, berhenti saja disana” jelas Chloe.
Tukang becak itu langsung mengantarkan Chloe ke rumah bu Maya. Jalanan terlihat rusak berlubang dan bebatuan besar ditengah jalan membuat becak yang dinaiki Chloe susah untuk melewatinya. Chloe merasa kasihan kepada tukang becak itu. Tampaknya lelaki tua itu kelelahan.
“Pak, kenapa jalannya rusak? Memangnya pemerintah tidak memperbaikinya?” tanya Chloe pada tukang becak itu.
“Ya begitulah non. Karena banyak yang enggan membayar pajak dengan taat, akibatnya jalanan yang rusak parah tidak pernah diperbaiki.” ujar tukang becak itu.
Chloe ingat apa yang tadi kak Mey jelaskan ada kaitannya dengan jalan yang rusak ini. “Benar juga ya, kalo dalam negeri tidak ada pajak untuk pembangunan negrinya sendiri, mereka yang akan menanggung akibatnya sendiri.” ujar Chloe dalam  hati.
Tak lama kemudian, sampailah Chloe tepat didepan apotik yang jaraknya hanya beberapa langkah dengan rumah bu Maya. Chloe memberi uang kepada tukang becak itu.
“Ini kembaliannya non.” ucap tukang becak itu sambil menyodorkan kembalian.
“Ambil saja pak.” jawab Chloe sambil tersenyum, dia merasa kasihan kepada tukang becak yang harus bekerja keras dengan upah yang sedikit sedangkan jalan yang dilalui sangat rusak.
Chloe segera menuju rumah bu Maya. Rumah bu Maya terlihat sepi dan sepertinya tidak ada orang. Dengan memberanikan diri Chloe mengetuk pintunya sedikit keras.
“Tok.. tok.. tok.” Chloe mengetuk pintunya.
Seseorang membukakan pintu dari dalam. Chloe sudah takut bu Maya akan marah.
“Chloe? Kenapa disini? Silahkan masuk.” Tanya bu Maya dengan suara pelan.
“Huhh.. Untungnya tidak marah-marah lagi.” dalam hati Chloe dengan nafas lega.
“Iya bu terimakasih.” ucap Chloe.
“Ada apa Chloe? Mau minta maaf gara-gara tadi tidak memperhatikan ibu menjelaskan?” tanya bu Maya sedikit meledek.
“Hm iya bu itu salah satunya. Chloe mau bertanya bu? Bagaimana jika dalam suatu negeri tidak ada pajak? Minta penjelasannya dari ibu bolehkan?” tanya Chloe sambil melontarkan senyumnya.
“Begini saja, ibu ambil contoh. coba Chloe bayangkan ada negeri yang rakyatnya tidak mau membayar pajak? Sedangkan mereka seringkali mengeluh, sampai demo kepada pemerintah kenapa jalanan rusak parah dan tidak segera diperbaiki? Mereka yang tidak bayar, mereka yang merasakan akibatnya, mereka juga yang marah-marah? Sebaiknya kita sebagai warga negara yang baik harus menghargai keputusan yang telah dibuat oleh negara mereka, dan mengikuti aturan yang berlaku. Dan jawabannya kembali pada diri masing-masing. Orang yang bijak, taat bayar pajak! Nantinya juga untuk kepentingan kita bersama dan manfaatnya bisa kita rasakan bersama.” ujar bu Maya.
Chloe menganggukkan kepalanya, sepertinya dia mulai paham mengenai perpajakan.
“Baik bu, terimakasih atas penjelasannya. Semoga itu bisa menambah ide untuk Chloe menulis cerpennya.” ucap Chloe.
“Oh, Chloe ikutan lomba cerpen perpajakan itu ya? Semoga Chloe yang jadi juaranya ya.” Kata bu Maya.
“Iya bu, terimakasih banyak atas bantuannya. Maunya sih bu, tapi kan yang lain lebih jago-jago bikin cerpennya bu.”
“Berusaha dan berdo’a saja, pasti Chloe bisa.” Ujarnya.
                                                                        ***
Hari semakin sore, terik matahari mulai mengarah ke arah barat. Chloe berpamitan dengan bu Maya. Dia menelepon ayahnya untuk menjemputnya pulang. Tak lama kemudian, ayah Chloe datang menjemput.
“Ayah tau ngga? Besok Chloe ikutan lomba membuat cerpen.” kata Chloe.
“Oh ya? Baguslah, temanya tentang apa?” tanya ayah pada Chloe.
“E..e..e tentang perpajakan yah” jawab Chloe.
“Bagus bagus. Kamu udah tau apa itu pajak?” tanya ayah kembali.
“Pajak adalah iyuran wajib yang dipunggut oleh pemerintah dari masyarakat untuk menutupi pengeluaran rutin negara dan biaya pembangunan tanpa balas jasa yang dapat ditunjuk secara langsung. Betul kan yah?” ujar Chloe.
Ayah hanya mengangguk dan tersenyum pada Chloe.
Sesampainya dirumah, Chloe langsung menuju kamarnya dengan hati gembira. Sekarang dia tidak begitu membenci pelajaran ekonomi khususnya tentang perpajakan. Chloe melanjutkan menulis cerpen dengan ide-ide yang didapatnya.
Tanpa terasa, waktu semakin sore. Matahari akan segera terbenam. Chloe masih menulis cerpen di meja belajarnya. Dengan ditemani Molly kucing kesayangannya. Terdengar kak Mey mengetuk pintu kamar Chloe.
“Masuk saja kak.” ucap Chloe.
Kak Mey masuk dengan membawakan segelas susu coklat, yaitu minuman kesukaan Chloe.
“Sudah selesai cerpennya?” tanya kak Mey.
“Sedikit lagi kak.” jawab Chloe, matanya tidak melihat ke arah kak Mey. Dia begitu serius mengerjakan cerpen itu.
            Jam menunjukkan pukul 17.00 WIB. Chloe bangun dari meja belajarnya, dan cerpen yang dibuatnya selesai juga. Akhirnya, semua masalahnya hari ini terpecahkan. Yang tadinya Chloe sama sekali tidak tahu pajak, akhirnya dia tahu dan bisa memahaminya dengan baik. Dia juga memahami bahwa jika dalam suatu negri tidak ada pajak, mungkin apa jadinya?
Chloe berharap, negri Indonesia bisa sukseskan pembangunan negara melalui ketaatan dan kepatuhan membayar pajak. Untuk kepentingan bersama dan manfaatnya bisa dirasakan bersama.
Tamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar